Rabu, 19 Mei 2010

Build-up Your Self Confidence

There are times when you feel down the drains and nothing feels right. You take a trip down-hill where you adapt a more pessimistic outlook towards the world. This is nothing but lack of self confidence and self-esteem, something that commonly occurs and re-occurs in every one of us.


However, there are times when you can actually boost-up your self confidence and take charge of your life. As life is never about having happiness ‘served on a platter’, self-worth and realization within one’s self make a lot of difference. Acceptance plays an important role when it comes to building up your confidence. It is never too bad to be just yourself; there are always good and bad qualities in every person. Learn to love yourself for what you are and you will never have a cloudy day in life.


While It is a good idea to have a self-check, nevertheless always ponder on ‘both’ your worst and best attributes. Recognize what makes you ‘unique’ or gives you an edge over the others, surely each one of us have what it takes to be special. Next important step is ‘self-discovery’. What is it that makes you genuinely happy? A certain activity you enjoy and feel complete with? Find out today and waste not time in indulging yourself in to it, be it painting, dancing or singing. Make sure every day is a better day when you get to find out more about yourself, face the world and take new challenges. Push yourself and give new things a try, have you been to bungee jumping yet? If not go ahead and take a leap. It is not a good idea to try and please every single person you come across, this will only make you more miserable. Set up certain rules and principles for yourself and do not compromise on them. What might be a success story for you, might not be a big deal for some one else, so? Just leave it at that and learn to appreciate yourself and give yourself credit for it. Pat yourself at the back and also talk about your achievements to others, this will get you connected with like-minded people.


Finally, be true to yourself as this is the ultimate key to confidence and clear conscience. Learn to live up to your mistakes and take courage in fixing them, this will make you feel better about yourself and gain respect from people around you. Lastly, smile. This little upward curve on your face is the best and cheapest cosmetic around that can make you look and feel on top of the world!


Source:
http://www.ayushveda.com/magazine/build-up-your-self-confidence/

Senin, 17 Mei 2010

16 Cara Menggunakan Bahasa Tubuh yang Baik

Bahasan kali ini mengenai pentingnya menggunakan bahasa tubuh yang baik. Memperbaiki bahasa tubuh dapat membuat perbedaan yang besar ketika seseorang menilai kepribadian anda. Bahasa tubuh yang baik dapat menunjukkan bahwa anda memiliki kecakapan, daya pikat dan suasana hati yang positif. Sebagai contoh: jika anda sering tersenyum, anda akan merasakan lebih bahagia. Jika anda duduk dengan tegap, anda akan merasakan lebih energik. Jika anda melambatkan gerakan anda (tidak terburu-buru), anda akan merasakan lebih tenang.

Secara garis besar, bahasa tubuh terdiri dari bagaimana cara anda duduk, cara anda berdiri, cara anda menggunakan kedua tangan dan kaki anda, serta apa yang anda lakukan ketika berbicara dengan seseorang.

Dibawah ini adalah beberapa bahasa tubuh yang perlu anda perhatikan ketika berbicara dengan seseorang :

1. Jangan silangkan kaki dan tangan anda.
Anda mungkin sudah sering mendengar bahwa menyilangkan tangan atau kaki dapat menunjukkan bahwa anda tertutup terhadap lawan bicara anda dan ini tidak menciptakan hubungan pembicaraan yang baik. Bukalah selalu posisi tangan dan kaki anda.

2. Lakukan kontak mata, namun bukan menatapnya.
Dengan melakukan kontak mata pada lawan bicara anda dapat membuat hubungan pembicaraan menjadi lebih baik dan anda dapat melihat apakah mereka sedang mendengarkan anda atau tidak. Namun juga bukan dengan menatapnya (terus menerus), karena akan membuat lawan bicara anda menjadi gelisah.

Jika anda tidak terbiasa melakukan kontak mata pada lawan bicara anda, memang anda akan merasakan ketidaknyamanan pada saat pertama kali. Namun lakukan saja terus dan anda akan terbiasa suatu saat nanti.

3. Buatlah jarak antara kedua kaki anda.
Memberi jarak antara kedua kaki (tidak dirapatkan) baik dalam posisi berdiri maupun duduk menunjukkan bahwa anda cukup percaya diri dan nyaman dengan posisi anda.

4. Santaikan bahu anda.
Ketika anda merasa tegang, anda akan merasakan juga ketegangan di kedua bahu anda. Biasanya terlihat dari posisi bahu yang sedikit terangkat dan maju ke depan. Cobalah untuk mengendurkan ketegangan dengan menggerakkan bahu anda dan mundurkan kembali posisinya ke belakang atau bersandar.

5. Mengangguk ketika lawan bicara anda sedang berbicara.
Mengangguk menandakan bahwa anda memang sedang mendengarkan. Namun bukan berarti anda mengangguk berlebihan (terus menerus dan cepat) layaknya burung pelatuk :), karena anda akan terlihat seperti dibuat-buat.

6. Jangan membungkuk, duduklah dengan tegak.
Membungkuk menandakan bahwa anda tidak bergairah, dan tegak disini maksudnya adalah tetap dalam koridor santai, tidak tegang.

7. Condongkan badan, namun jangan terlalu banyak.
Jika anda ingin menunjukkan bahwa anda tertarik dengan apa yang disampaikan oleh lawan bicara anda, condongkan sedikit tubuh anda ke arahnya. Namun jangan juga terlalu condong karena anda terlihat seperti akan meminta sesuatu.

Jika anda ingin menunjukkan bahwa anda cukup percaya diri dan santai, condongkan sedikit badan anda ke belakang. Namun juga jangan terlalu condong, karena anda akan terlihat arogan.

8. Tersenyum dan tertawa.
Bercerialah, jangan terlalu serius. Santai, tersenyum bahkan tertawa jika seseorang menceritakan sesuatu hal yang lucu. Orang akan cenderung mendengarkan anda jika anda terlihat sebagai orang yang positif. Namun juga jangan menjadi orang yang pertama kali tertawa jika anda sendiri yang menceritakan cerita lucu nya, karena anda akan terkesan gugup dan seperti minta dikasihani.

Tersenyumlah ketika anda berkenalan dengan seseorang, namun jangan pula tersenyum terus menerus karena anda akan dianggap menyimpan sesuatu dibalik senyuman anda.

9. Jagalah posisi kepala anda tetap lurus.
Jangan melihat ke bawah ketika anda berbicara dengan seseorang. Anda akan terlihat seperti tidak nyaman berbicara dengan lawan bicara anda dan juga terlihat seperti orang yang tidak percaya diri.

10. Jangan terburu-buru.
Ini bisa berlaku untuk apa saja. Bagi anda yang mempunyai kebiasaan berjalan dengan cepat, cobalah sesekali untuk memperlambat jalan anda. Selain anda akan terlihat lebih tenang dan penuh percaya diri, anda juga akan merasakan tingkat stress anda berkurang.

11. Hindari gerakan-gerakan yang menunjukkan bahwa anda gelisah.
Seperti menyentuh muka anda, menggoyang-goyangkan kaki anda atau mengetuk-ngetuk jari anda di atas meja dengan cepat. Gerakan-gerakan semacam itu menunjukkan bahwa anda gugup dan dapat mengganggu perhatian lawan bicara atau orang-orang yang sedang berbicara dengan anda.

12. Efektifkan penggunaan tangan anda.
Daripada anda menggunakan tangan anda untuk hal-hal yang dapat mengganggu perhatian lawan bicara anda, seperti disebutkan dalam point 11 diatas, lebih baik anda menggunakan tangan anda untuk membantu menjelaskan apa yang anda sampaikan.

13. Rendahkan gelas minuman anda.
Seringkali kita berbicara dengan seseorang sambil memegang gelas minum di depan dada kita. Sikap ini agak kurang baik karena akan membuat ‘jarak’ yang cukup jauh antara anda dan lawan bicara anda. Rendahkan posisi gelas minuman anda, bahkan jika perlu anda memegangnya sampai di dekat kaki.

14. Jangan berdiri terlalu dekat.
Dalam artikel saya: Bagaimana Mengetahui Seseorang Sedang Berbohong, saya sempat mengulas sedikit bahwa orang yang merubah posisinya menjadi terlalu dekat pada lawan bicaranya dapat menandakan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu atau mempunyai maksud tertentu. Selain itu tentu saja akan membuat lawan bicaranya menjadi tidak nyaman. Jagalah selalu jarak ’privacy’ antara anda dan lawan bicara anda.

15. Berkaca.
Dalam buku-buku mengenai penjualan, saya sering menemukan tentang istilah berkaca ini. Pada intinya ketika 2 orang terkoneksi dan melakukan hubungan pembicaraan yang positif, mereka secara tidak sadar akan saling berkaca satu sama lain. Dalam arti anda akan sedikit meniru bahasa tubuh lawan bicara anda, begitu juga sebaliknya.

Anda dapat juga melakukan teknik berkaca yang proaktif (dengan sadar) untuk lebih meningkatkan kualitas hubungan anda dan lawan bicara anda. Sebagai contoh, jika lawan bicara anda sedikit mencondongkan badannya ke depan, anda dapat juga mencondongkan badan anda ke depan. Jika lawan bicara anda menaruh satu tangannya di atas meja, anda juga dapat melakukan hal yang sama. Namun tetap perlu diingat, jangan melakukan gerakan tiruan dengan jeda waktu yang sangat singkat dan hampir semua gerakan ditiru. Lawan bicara anda akan melihat suatu keanehan dan tampak seperti sirkus. :)

16. Jagalah selalu sikap anda.
Apa yang anda rasakan akan tersalur lewat bahasa tubuh dan dapat menjadi perbedaan yang besar terhadap kualitas hubungan anda dan lawan bicara anda. Tetaplah jaga sikap yang positif, terbuka dan santai.

Perlu diingat bahwa anda dapat merubah bahasa tubuh yang kurang baik, tentu saja selama anda memahami bahwa untuk menciptakan kebiasaan yang baru memerlukan sebuah proses. Jangan juga mencoba melakukan semua dengan sekaligus karena akan membuat anda bingung dan penat.

Fokus saja pada 2-3 bahasa tubuh yang menjadi prioritas anda dan perbaiki terus menerus selama 3-4 minggu. Setelah waktu tersebut anda akan menciptakan suatu kebiasaan yang baru. Kemudian anda dapat melanjutkannya lagi untuk 2-3 bahasa tubuh berikutnya.

Sumber: http://www.akuinginsukses.com/16-cara-menggunakan-bahasa-tubuh-yang-baik/

Understanding Corporate Identity

By Sabah Karimi

A business’s corporate identity comprises several elements that determine the overall perception of the business in the eyes of the consumer. A company’s logo, language, culture and marketing style represent a company’s values and business culture, and these are conveyed to the clients and customers in several ways as part of a business’s branding efforts. The corporate identity has both a sociological and organizational impact; here’s how to understand the basics about corporate identity.

Instructions

Step 1
Determine the fundamentals of corporate design. A company’s logos, color themes, and slogan are all elements of design and branding. These help create a mental image or idea of what the company is about, and account for a significant portion of the corporate identity.

Step 2
Learn about the company’s communication style. Corporate identity also takes the form of communications in the consumer space. This includes advertising outlets, public relations and marketing, and how they engage with their customers online and offline. Companies that have a strong presence among their target market are establishing their corporate identity in an effort to increase brand awareness.

Step 3
Determine the company’s brand experience method. The brand experience is typically designed by the marketing and public relations department and involves creating a positive mental model in the consumer’s mind. Consumers who align themselves with a particular brand or show preference for a brand over another may be subconsciously ‘accepting’ the corporate identity at a micro level.

Step 4
Understand the corporation’s internal values and culture. A corporation’s mission statement and vision can serve as the driving force behind the culture and norms of the organization. This is another extension of the corporate identity, and most companies share this information with consumers and investors.

step 5
Learn about and evaluate the company’s social and community efforts. Corporations that actively seek out ways to support community efforts by sponsoring events or volunteering are forming their social identity. This is another element of the corporate identity, and helps the organization gain more public visibility.

Source: http://www.ehow.com/how_4537072_understanding-corporate-identity.html

===================

Tips & Warnings

  • A well-established corporate identity can help create a positive brand image in the consumer’s eyes
  • A logo is one of the key elements of the corporate identity
  • A well-designed corporate identity can help a company attract its target customer
  • The corporate identity needs to be implemented across all literature, advertising and web pages in order to deliver the most impact
  • In-depth brand and target customer research can help create the strongest corporate identity that eventually has a positive impact with customers and clients
  • Reinventing a brand can be difficult for companies that have already established a corporate identity
  • Slogans and tag lines can be trademarked; making sure a new slogan or tagline hasn’t been taken by another company can prevent legal problem

How to Develop a Marketing Plan

Any potential lender or investor will want to see a marketing plan for your new product before making a commitment. Developing a marketing plan also gives you the opportunity to organize your thoughts and discover any trouble spots in your strategy.

Instructions

Step 1
Describe your product in detail. What are its most significant features? Is the product still in development, or is it ready to roll?

Step 2
Identify your target market. Who will this product appeal to most? Include all market research, including historical figures for sales of your type of product.

Step 3
Size up the competition. Who are your major competitors? How does your product compare to theirs? How strong of a foothold do they have in the market? Look at the methods they use to market their products.

Step 4
Detail your marketing strategy. How will you advertise and market your product? Which features of the product will you focus on? What will be the product's price and why?

Step 5
Describe your operations. Include your plan for customer service, proposed credit and sales terms, qualifications and achievements of your management team, and the physical location of your business.

Step 6
Prepare financial statements based on projections of sales, operating costs and expenses. Include cash flow projections, profit and loss reports and income statements for at least three years.

--------------------------

Tips & Warnings
  • Divide the plan into sections based on the above topics. Begin with a summary that gives an overall picture of your product and its winning features.
  • In each section of the plan, always try to show how your product and strategy beats the competition.
  • Marketing plans can be just a few pages or as lengthy as novels. But keep in mind that the more thorough you are in supporting your plan with research, detailed information and financial projections, the more likely you will be to gain support from investors or lenders.
  • Have an accountant review your financial projections for accuracy.
  • Have the plan copy edited and proofread by a reliable source. Sometimes, too much "jargon" can turn off prospective lenders.
Source: http://www.ehow.com/how_14774_develop-marketing-.html

Are You a Professional?


How you look, talk, write, act and work determines whether you are a professional or an amateur. Society does not emphasize the importance of professionalism, so people tend to believe that amateur work is normal. Many businesses accept less-than-good results.

Schools graduate students who cannot read. You can miss 15% of the driving-test answers and still get a driver license. "Just getting by" is an attitude many people accept. But it is the attitude of amateurs.

"Don't ever do anything as though you were an amateur.

"Anything you do, do it as a Professional to Professional standards.

"If you have the idea about anything you do that you just dabble in it, you will wind up with a dabble life. There'll be no satisfaction in it because there will be no real production you can be proud of.

"Develop the frame of mind that whatever you do, you are doing it as a professional and move up to professional standards in it.

"Never let it be said of you that you lived an amateur life.

"Professionals see situations and they handle what they see. They are not amateur dabblers.

"So learn this as a first lesson about life. The only successful beings in any field, including living itself, are those who have a professional viewpoint and make themselves and ARE professionals" — L. Ron Hubbard

A professional learns every aspect of the job. An amateur skips the learning process whenever possible.

A professional carefully discovers what is needed and wanted. An amateur assumes what others need and want.

A professional looks, speaks and dresses like a professional. An amateur is sloppy in appearance and speech.

A professional keeps his or her work area clean and orderly. An amateur has a messy, confused or dirty work area.

A professional is focused and clear-headed. An amateur is confused and distracted.

A professional does not let mistakes slide by. An amateur ignores or hides mistakes.

A professional jumps into difficult assignments. An amateur tries to get out of difficult work.

A professional completes projects as soon as possible. An amateur is surrounded by unfinished work piled on top of unfinished work.

A professional remains level-headed and optimistic. An amateur gets upset and assumes the worst.

A professional handles money and accounts very carefully. An amateur is sloppy with money or accounts.

A professional faces up to other people’s upsets and problems. An amateur avoids others’ problems.

A professional uses higher emotional tones: Enthusiasm, cheerfulness, interest, contentment. An amateur uses lower emotional tones: anger, hostility, resentment, fear, victim.

A professional persists until the objective is achieved. An amateur gives up at the first opportunity.

A professional produces more than expected. An amateur produces just enough to get by.

A professional produces a high-quality product or service. An amateur produces a medium-to-low quality product or service.

A professional earns high pay. An amateur earns low pay and feels it’s unfair.

A professional has a promising future. An amateur has an uncertain future.

The first step to making yourself a professional is to decide you ARE a professional.

Are you a professional?

Source: http://tipsforsuccess.org/professionalism.htm

STAR Method for Facilitation & Processing

by Michael Cardus

The STAR method is a behavioral interviewing method that organizations use to explore predictors of future performance. The idea is this that most accurate indicator of future performance is past performance in a similar situation.

This STAR method can also be used for processing (de-briefing) a team building and learning simulation.

Here is the Model – from MIT Careers Officeteam building ny

STAR Method

Situation: give an example of a situation you were involved in that resulted in a positive outcome

Task: describe the tasks involved in that situation

Action: talk about the various actions involved in the situation’s task

Results: what results directly followed because of your actions

The use of open ended questions and ability for reflection fit into the Experiential Learning Model where learning and transferable application of skills is processed.

Here is my alternative facilitation processing application of the STAR method.

The team completes a team building activity, then the facilitator guides the team in the following manner;

Situation: What from the (situation) experience resulted in a positive outcome?

Task: Describes the tasks (steps, processes, planning, etc…) involved that resulted in that positive outcome.

Action: share with the team your personal actions involved in the task (steps, processes, planning, etc…) the personal action is used because every person experiences differently. Once the individual contributors share their knowledge a deeper pool of team knowledge can be constructed to read more about this

Results: Describe the results. How can we transfer these team & personal actions that led to these results back to your team (organization, community, family, etc…)? List the action steps that can be taken to implement the new actions (learnings, skills, communication, etc…).

Source: http://teambuildingwny.blogspot.com/search/label/Processing

STAR Method

Behavioral Interviewing

Behavioral Interviewing is a new style of interviewing that more and more organizations are using in their hiring process. The basic premise behind behavioral interviewing is this: the most accurate predictor of future performance is past performance in a similar situation. It focuses on experiences, behaviors, knowledge, skills and abilities that are job related. Traditional interviewing questions ask you general questions such as "Tell me about yourself." The process of behavioral interviewing is much more probing and works very differently. Employers predetermine which skills are necessary for the job for which they are looking and then ask very pointed questions to determine if the candidate possesses those skills. For example, if successful leadership is necessary for a position, you may be asked to talk about an experience in which you were a leader as well as what you think makes a good leader. To assess which skills the employer seeks, review employer literature, speak with alumni, family and friends who work for the employers, and listen carefully during the organization's information session.

During a behavioral interview, always listen carefully to the question, ask for clarification if necessary, and make sure you answer the question completely. Your interview preparation should include identifying examples of situations from your experiences on your resume where you have demonstrated the behaviors a given company seeks. During the interview, your responses need to be specific and detailed. Tell them about a particular situation that relates to the question, not a general one. Briefly tell them about the situation, what you did specifically, and the positive result or outcome. Your answer should contain these four steps (Situation, Task, Action, Result or "STAR") for optimum success.

STAR Method

Situation: give an example of a situation you were involved in that resulted in a positive outcome

Task: describe the tasks involved in that situation

Action: talk about the various actions involved in the situation’s task

Results: what results directly followed because of your actions

Before the interview process, identify two or three of your top selling points and determine how you will convey these points (with demonstrated STAR stories) during the interview.

It is helpful to frame your answer as a story that you can tell. Typically, the interviewer will pick apart the story to try to get at the specific behavior(s) they seek. They refer to this as "digging a well." The interviewer will sometimes ask you open ended questions to allow you to choose which examples you wish to use. When a part of your story relates to a skill or experience the interviewer wishes to explore further, he/she will then ask you very specific follow-up questions regarding your behavior. These can include "What were you thinking at that point?" or "Tell me more about your meeting with that person." or "Lead me through your decision process."

Whenever you can, quantify your results. Numbers illustrate your level of authority and responsibility. For example: "I was a shift supervisor." could be "As Shift Supervisor, I trained and evaluated 4 employees."

Be prepared to provide examples of when results didn't turn out as you planned. What did you do then? What did you learn? Your resume will serve as a good guide when answering these questions. Refresh your memory regarding your achievements in the past couple of years. Demonstration of the desired behaviors may be proven in many ways. Use examples from past internships, classes, activities, team involvements, community service and work experience.

Example of a STAR Answer

Situation: During my internship last summer, I was responsible for managing various events.

Task: I noticed that attendance at these events had dropped by 30% over the past 3 years and wanted to do something to improve these numbers.

Action: I designed a new promotional packet to go out to the local community businesses. I also included a rating sheet to collect feedback on our events and organized internal round table discussions to raise awareness of the issue with our employees.

Result: We utilized some of the wonderful ideas we received from the community, made our internal systems more efficient and visible and raised attendance by 18% the first year.

Examples of a Behavioral Question

Behavioral questions can be difficult if you are not prepared. Always try to be conscious about what the recruiter is trying to find out about you by asking you a particular question. Setting up a mock interview with the MIT Careers Office is an excellent way to practice. Here are some examples:

* Describe a situation in which you were able to use persuasion to successfully convince someone to see things your way.
* Describe an instance when you had to think on your feet to extricate yourself from a difficult situation.
* Give me a specific example of a time when you used good judgment and logic in solving a problem.
* By providing examples, convince me that you can adapt to a wide variety of people, situations and environments.
* Describe a time on any job that you held in which you were faced with problems or stresses that tested your coping skills.
* Give me an example of a time in which you had to be relatively quick in coming to a decision.
* Tell me about a time in which you had to use your written communications skills in order to get an important point across.
* Give me a specific occasion in which you conformed to a policy with which you did not agree.
* Give me an example of an important goal that you had set in the past and tell me about your success in reaching it.
* Tell me about a time when you had to go above and beyond the call of duty in order to get a job done.
* Give me an example of a time when you were able to successfully communicate with another person even when that individual may not have personally liked you (or vice versa).

Source: http://web.mit.edu/career/www/guide/star.html

Do Fears Block Your Success?

Succeeding is easy if nothing scares you. If nothing makes you hesitant, shy or nervous.

When you do not act, it is probably because of some FEAR. Fear is the inability to face someone or something. When you cannot face an issue, it causes complexity and stress.

For example, if you cannot easily discuss money, you have money problems. Whenever you need to take financial action, you freeze. You end with less money.

If you are an employer and avoid staff problems, production statistics decline. Work becomes serious. Since no one resolves the staff problems, the problems persist while your business suffers.

Avoiding topics with your spouse is the most common reason for marriage problems. Hiding, withholding or suppressing your feelings and thoughts from your spouse is a giant leap toward divorce.

When fears control your life, L. Ron Hubbard points out you are controlled by shadows. If you reach out and take action despite your fears, you will discover how thin and weak the fears really are!

To illustrate this point, Ron wrote, "On Lake Tanganyika* the natives have a very interesting way of catching fish. There on the equator the sun shines straight down through the clear water. The natives take blocks of wood and string them along a long rope. They stretch this rope between two canoes and with these abreast begin to paddle towards the shoal** water. By the time they have reached the shoals, schools of fish are piled and crowded into the rocks and onto the beach. The blocks of wood on the rope make shadows which go all the way down to the bottom of the lake and the fish, seeing the approach of these shadows and the apparent solid bars which they form in the water, swim fearfully away from them and so are caught." (*Lake Tanganyika is located in east-central Africa.)(** Shoal: shallow.)

There are several ways you can blow away the shadows that stop you from succeeding.

One effective method is role playing or drilling. Once you identify the area you have difficulty confronting, you pretend to confront the situation in a role-playing exercise. Drilling allows you to discover which parts of the problem are really problems and which are simply shadows.

For example, you need to ask your boss for a raise. Before talking to him you practice the conversation with your friend. You work out some details, change your approach and work out your best possible presentation. Because you are prepared for the meeting, you are not as nervous.

Another method of reducing fear is to approach the problem with gradient steps. You cut the problem into small bites. You successfully deal with the small parts and thus reach a full resolution.

For example, you need to fill out your tax forms. You’ve done your own taxes before, but this year is more complicated. You earned money in new ways this year and also bought a house. Instead of trying to take on the entire task in one day, you spend one day just working out how to report the new income. You spend another day just figuring out how to deduct the house-buying costs. Pretty soon, you’re down to the routine tax work you’ve done before and finish off the job.

Simply talking about the fear can reduce the effects of fear. After you openly discuss it with someone who listens, the problem often feels less difficult.

For example, you are afraid of flying in an airplane. Your spouse agrees to listen to you and you spill your guts. You describe everything about flying that scares you. After a while, you decide you can fly.

L. Ron Hubbard discovered that talking and listening is a powerful form of therapy when done correctly. He spent years developing an entire technology for one-on-one communication that removes fears for good. See link below.

In many cases, the best approach to dealing with a fear is to close your eyes and jump in. You face the fear without any regard for your feelings and emotions. You might get nervous or even terrified, but once you take the leap, you discover the walls are merely shadows.

Confronting a fear can be tough, but the reward is enormous. Confronting just a small part of a fear is an accomplishment.

Succeeding despite a fear means you have done something you could not do before. And that is real success.

Source: http://tipsforsuccess.org/fear.htm

Etika Makan (Table Manners)

Etika makan atau Table Manners adalah aturan yang harus dilakukan saat bersantap bersama di meja makan.

Etika makan diperkenalkan oleh bangsa Eropa yang merupakan aturan standar terutama saat bersantap bersama-sama di sebuah acara resmi atau acara makan bersama di keluarga besar.

Setiap negara memiliki aturan meja makan yang berbeda-beda. Namun, ada beberapa aturan dasar yang terdapat di setiap etika makan, yaitu :

  • Makan dengan mulut yang tertutup saat mengunyah makanan
  • Berbicara dengan volume suara yang rendah
  • Tutupi mulut saat batuk atau bersin
  • Jangan menyandarkan punggung di sandaran kursi
  • Jangan menimbulkan suara saat mengunyah makanan
  • Jangan memainkan makanan dengan peralatan makan
  • Jangan mengejek atau memberitahu seseorang bahwa dia memiliki etika makan yang buruk
  • Jangan bersendekap di meja makan
  • Selalu meminta ijin ke empunya acara saat akan meninggalkan meja makan
  • Jangan menatap mata orang lain saat dia sedang makan
  • Jangan berbicara di telepon di meja makan. Meminta ijinlah saat anda benar benar harus menjawab telepon, dan meminta maaflah saat kembali.
  • Jangan menimbulkan suara saat memakan sup
  • Letakkan garpu di sebelah kiri dan garpu disebelah kanan bersama-sama di arah jam 5 di atas piring dengan bagian pisau yang tajam menghadap ke dalam. Ini menandakan bahwa anda telah selesai makan.
  • Lap yang disediakan di atas meja tidak boleh digunakan
  • Jangan menghilangkan ingus dengan lap tangan. Lap yang disiapkan untuk anda hanya untuk membersihkan mulut bila kotor
  • Jangan mengambil makanan dari piring orang lain dan jangan memintanya juga
  • Telan semua makanan yang ada di mulut sebelum minum
  • Jangan menggunakan tangan saat mengambil makanan yang tersisa di dalam mulut, gunakan tusuk gigi
  • Usahakan untuk mencicipi semua makanan yang disediakan
  • Tawarkan ke orang di sebelah anda saat anda akan menuangkan minuman ke gelas anda
  • Sisakan makanan sedikit bila anda tidak ingin atau tidak sanggup menghabiskan makanan
  • Tunggu ada aba-aba untuk mulai memakan makanan yang dihidangkan
  • Menambahkan bumbu setelah mencicipi makanan dianggap kasar dan menghina koki
  • Kecuali di restoran, jangan minta untuk menyingkirkan sisa makanan anda kecuali acara makan sudah selesai dan jangan pernah melakukan bila diundang ke acara formal.
  • Jangan lupakan satu hal yang umum, jangan lupa untuk selalu mengatakan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ setiap kali anda meminta bantuan
Sumber: http://duniamakanan.com/etika-makan-table-manners.html

ETIKET JAMUAN MAKAN INTERNASIONAL

Sebuah Tuntutan Zaman Yang Sedikit Merepotkan

Apapun profesi anda pasti pernah menghadiri acara jamuan makan, baik yang diadakan di rumah, restaurant, cafe, maupun hotel berbintang. Ada sebagian orang masih merasa canggung atau nervous melihat perlengkapan makan yang begitu banyak dan beragam di saat jamuan. Saya punya sepenggal cerita tentang seputar dunia perut ini; Pada suatu saat, seorang pengusaha dari daerah menghadiri jamuan makan malam di hotel berbintang lima, karena undangan untuk dua orang, istrinya di ajak serta menghadiri jamuan. Singkat cerita, hidangan cold appetizer (pembuka dingin) di sajikan. Sepiring selada udang dengan thousand island sauce. Karena tidak biasa menghadiri jamuan, si istri dengan santainya menyantap salad dengan garpu ditangan kiri dan sendok sup di tangan kanan. Untungnya suaminya tau, setengah berbisik suaminya berkata “Mah…sendoknya salah, ganti sama pisau” dan si siistri-pun tersipu malu dibuatnya.

Saya percaya ilustrasi di atas tidak akan terjadi pada anda, apalagi setelah membaca artikel ini. Rasa percaya diri bertambah, tidak canggung, makan dengan mantap dan terlihat elegant di saat jamuan makan.

Awal dari Sebuah Jamuan
Undangan jamuan makan biasanya datang satu minggu sebelum hari “H”, pada bagian bawah kiri undangan seringkali seringkali tertulis kalimat R.S.V.P (Respondez S’il Vous Plait). Maksudnya anda diminta memberikan jawaban atau kepastian kedatangan . Konfirmasikan kedatanngan via telepon atau bicara langsung. Ini penting dilakukan karena berguna bagi si penyelenggara acara, baik untuk pemesanan tempat maupun order menu hidangan.

Ketika hari acara tiba, usahakan jangan datang terlambat sehingga membuat anda merasa canggung saat memasuki ruangan. Datanglah 10-15 menit sebelum acara perjamuan dimulai, datang lebih awal membuat perasaan anda lebih nyaman, mengenal situasi dan mempunyai waktu untuk beramah tamah dengan tuan rumah maupun tamu-tamu yang lain.

Seringkali di dalam undangan juga disebutkan pakaian yang harus dikenakan sesuai tema acara. Pakailah busana sesuai ketentuan, jangan sampai anda satui-satunya yang berbusana kebaya tradisional diantara tamu-tamu berpakaian casual. Atau anda berdandan tebal dengan sepatu hak tinggi, sementara temanya pesta kebun dengan hidangan serba panggang (barbeque). Tentu saja anda akan sulit melangkah karena hak sepatu menancap di tanah dan make up anda menjadi luntur karena asap dan udara panas.

Pada pesta-pesta gala dinner, sebelum acara makan di lakukan biasanya ada pre-dinner. Sambil menunggu VIP guest, tamu-tamu sambil berdiri menikmati snack dan minuman ringan. Hidangannya berupa kue-kue kecil atau aneka keripik (chips). Minuman apperitif seperti cocktail, fruit punch, juice dan minuman beralkohol ringan turut serta disajikan. Ambilah minuman dan kue yang anda suka dan jangan sungkan makan sambil berdiri dan bercakap-cakap. Diusahakan percakapan yang bersifat netral, telenovela favorit, hobi dan kabar teman maupun keluarga bisa dijadikan topik pembicaraan. Sebaiknya obrolan dilakukan berkelompok, gunakan nada suara sedang dan selingi dengan joke ringan agar suasana lebih akrab dan hidup.

Di Saat Jamuan Makan
Jamuan makan yang dilakukan di hotel maupun restauran dengan jumlah tamu yang banyak, seringkali menggunakan buffet service (prasmanan). Aturan mainnya, tamu melakukan self service. Mulai dari hidangan pembuka (appetizer) sampai penutup (dessert) anda di wajibkan mengambil hidangan sendiri dan menyantapnya di meja makan yang sudah di set up piranti makannya. Ada juga yang menggunakan american service, pelayanannya tamu duduk di meja sedangkan hidangan dikeluarkan secara berurutan oleh waiter/s

Dalam jamuan makan Internasional, meja makan sudah di set up alat-alat makannya sesuai menu yang akan di sajikan. Standarnya, didepan anda persis ada show plate, sebuah piring besar yang tidak digunakan untuk makan. Fungsi dari show plate hanya sebagai pemanis meja makan, menempatkan napkin dan sebagai alas piring saji. Tahap pertama, setelah anda duduk, buka napkin dan letakan di pangkuan anda. Jika ukuran napkin terlalu lebar, bukalah separunya saja. Gunakan alat makan, baik itu garpu, pisau, dan sendok selalu mulai dari paling luar atau paling jauh dari piring. Ambil berpasangan kiri dan kanan, kecuali pisau, garpu atau sendok dessert yang letaknya di atas piring main course.

Menikmati Hidangan Pembuka (Appetizer)

Sebelum hidangan pembuka di sajikan, pada B&B Plate(piring roti dan mentega) sudah disajikan roti dan mentega, biasanya dinner roll atau brioche. Roti ini disantap sambil menunggu hidangan pembuka tiba (salad/soup). Jangan menyantapnya dengan pisau dan garpu. Makan dengan menggunakan tangan, sobek roti dengan ukuran sekali suap dan olesi dengan butter (jika tersedia).

Pada jamuan makan lengkap, biasanya appetizer terdiri dari dua zenis hidangan. Giliran pertama cold appetizer atau hidangan pembuka dingin. Ragam makanannya berupa aneka salad, shrim coktail atau cold canape (sandwich kecil yang disajikan dingin). Cara makannya dengan menggunakan pisau ditangan kanan dan garpu di pegang tangan kiri. Perhatikan bentuknya, pisau dan garpu untuk salad ukurannya lebih kecil dibandingkan cutelery untuk untuk hidangan utama.

Giliran kedua hot appetizer (pembuka panas), makanan yang disajikan biasanya aneka jenis soup. Alat hidang yang digunakan adalah mangkuk kecil dengan dua telinga dan sendok soup(bertangkai pendek dan berujung bulat). Cara makannya, hirup soup dari tepi sendok bukan di suap dari ujung sendok, jika hampir habis, miringkan cup soup sehingga anda mudah mengambilnya. Jangan sekali-kali meniup soup yang disajikan panas, aduk perlahan dan tunggu beberapa saat sampai panas agak berkurang. Anda diperkenankan menghirup soup dari mangkok soup, dengan catatan soup disajikan dengan mangkuk bertelinga (sebaiknya jangan dilakukan). Setelah selesai, letakan sendok soup di atas saucer (alas cup soup) agar waiter/s lebih mudah melakukan clear up.

Menyantap Hidangan Utama (main course)

Hidangan utama biasanya berupa hidangan dari daging, unggas, sea food maupun telur, baik di baik dilengkapi saus maupun tidak. Ada kalanya main course disajikan bersama olahan sayuran dan kentang sebagai pendamping menu utama. Cara makannya bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama a la Amerika, makanan dipotong-potong dulu kemudian letakan pisau di sisi kanan piring, kemudian garpu dipindahkan ke tangan kanan untuk menyuap makanan. Gaya Eropa lain lagi, pisau selalu di tangan kanan untuk memotong dan menikmati hidangan dengan garpu menggunakan tangan kiri. Peganglah pisau dan garpu seluwes mungkin, usahakan posisi jari telunjuk tepat di atas punggung garpu atau pisau, ini memudahkan anda saat memotong makanan dan kelihatan tidak kaku. Anda boleh menggunakan satu diantaranya yang lebih mudah.

Hidangan utama biasanya disajikan dengan minuman penyerta. Makanan dari daging disertai dengan red whine sedangkan sea food disertai white wine. Jika anda tidak mengkonsumsi wine, tolak dengan halus dan katakan minuman pengganti yang anda inginkan.

Dessert, Hidangan Manis Untuk Penutup
Hidangan penutup banyak sekali ragamnya, ada kalanya disajikan aneka cake, ice cream, pudding, potongan buah-buahan, shorbet atau punch. Alat hidang yang digunakan berupa sendok, garpu dan pisau kecil yang diletakan pada bagian atas piring main course. Jika dessert berupa minuman yang disajikan dengan gelas disertai hiasan di atasnya, santap hiasan terlebih dahulu atau sisihkan sehingga memudahkan anda di saat menikmatinya.

Digestif Dring, Minuman Penyempurna Jamuan

Sering juga disebut dengan after dinner drink, minuman ini dinikmati setelah acara jamuan makan selesai. Fungsi dari sajian digestif drink adalah untuk membantu mencerna makanan. Sering di sajikan aneka minuman yang mengandung alkohol seperti, Cohnac, Brandy, Calvados atau Whiskey. Untuk para wanita umumnya lebih menyukai Apricot Brandy, Orange Liqueur atau Benedictine.

Jika anda bukan penikmat wine, mintalah dengan sopan kepada pelayan untuk diganti dengan juice, soft drink, kopi maupun teh. Untuk minuman yang disajikan dengan sendok pengaduk, jangan sampai saat mengaduk sendok membentur dasar maupun dinding cangkir sehingga mengeluarkan bunyi. Sedangkan minuman yang di sajikan dengan gelas berkaki, pegang dengan posisi jari kelingking, jari manis dan tengah berada dikaki gelas, sedangkan ibu jari dan jari telunjuk menahan keseimbangan pada badan gelas. Adakalanya waiter/s menawarkan tambahan minuman, cara menolaknya cukup anda menyentuh bibir gelas dengan jari telunjuk dan katakan terima kasih. Jaga jangan sampai ada noda lipstick di bibir gelas atau ujung sedotan.
Agar nampak luwes dan elegant di saat jamuan, jangan malu untuk melatih diri baik di rumah maupun ikut kursus table maner yang sekarang banyak di tawarkan. Nampaknya begitu rumit dan terkesan banyak aturan, namun begitulah adanya. Sebuah etiket jamuan makan internasional yang sudah menjadi standar global service di hotel, maupun restaurant. Benar-benar tuntutan jaman yang sedikit merepotkan!.

Budi Sutomo

=====

Tabu Dilakukan Selama Jamuan Makan
1. Selama jamuan makan berlangsung, jangan duduk membungkuk atau bersandar malas. Duduklah dengan tegak dengan jarak badan dengan tepi meja selebar lima jari. Hindari mengembangkan kedua belah siku dan meletakannya di atas meja makan.
2. Jika jamuan dilakukan di rumah dan anda duduk satu meja dengan host (tuan rumah), jangan buka napkin sebelum tuan rumah melakukanya. Serbet makan hanya digunakan untuk menyeka jari tangan dan bibir. Jangan sekali-kali menyeka keringat, hidung atau membersihkan peralatan makan dengan napkin.
3· Jangan menyuap makanan dengan porsi yang besar, apalagi mengunyah dengan berkecap. Kunyah makanan dengan posisi mulut tertutup dan tanpa kecap. Berbicara ketika mulut masih penuh makanan juga harus dihindari.
4· Minum dilakukan pada saat mulut tidak terisi makanan. Teguklah perlahan tanpa mengeluarkan bunyi.
5· Jangan berbicara atau mengambil hidangan tanpa meletakan peralatan makan terlebih dahulu.
6· Jika anda melakukan kesalahan, seperti menumpahkan minuman atau menjatuhkan alat makan. Jangan panik, segera minta maaf dengan tamu yang diduk disekeliling kita dan panggil waiter/s untuk membersihkannya.
7· Apabila ada hidangan yang disajikan dengan sumpit, makan dengan agak menunduk agar tidak berjatuhan. Jangan menusuk makanan dengan sumpit atau mengembalikan makanan yang telah di ambil.
8· Jangan mengambil makanan yang berlebihan sehingga piring anda terlihat seperti gunung. Ambil seperlunya dan tambah lagi jika anda menginginkannya.
9· Usahakan jangan meninggalkan meja selama jamuan berlangsung. Jika anda terpaksa harus meninggalkan ruangan dan akan kembali lagi, mintalah ijin dan letakan napkin di sandaran atau di dudukan kursi sebagai tanda anda akan kembali lagi.
10· Merokok sebaiknya dilakukan bila semua tamu telah selesai menyantap hidangan penutup. Biasanya di lakukan di saat digestif drink pada akhir jamuan.
11· Sebisa mungkin jangan menggunakan tusuk gigi di meja makan, lakukan di toilet. Jika terpaksa dilakukan, tutup mulut anda dengan napkin atau telapak makan sebelah kiri.
12· Di akhir jamuan, sampaikan sedikit pujian kepada tuan rumah atau pihak penyelenggara, seperti makananya lezat atau suasana pestanya meriah. Ucapkan terima kasih dengan senyuman dan berpamitlah.


=======
Sumber: http://budiboga.blogspot.com/2006/05/biar-ngga-malu-maluin-belajar-etiket.html

Senin, 10 Mei 2010

INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU


INFORMASI PENERIMAAN
MAHASISWA BARU
TAHUN 2010





JADWAL PENERIMAAN
Pendaftaran: 5 oktober 2009-4 september 2010
Ujian Seleksi Setiap hari (One day test service)

PERSYARATAN
Menyerahkan :
  • Foto Kopi STTB yang disahkan : 2 Lembar
  • Foto Kopi NEM/Surat Tanda Kelulusan yang disahkan : 1 lembar
  • Pas Foto terbaru ukuran 3x4 cm : 4 Lembar
  • Membayar uang pendaftaran Rp 50.000,00
  • Menempuh Tes Potensi Akademik dan Wawancara

BEASISWA
Beasiswa Supersemar, Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (BPPA), Beasiswa Bantuan Belaar Mahasiswa (BBBM),  Beasiswa Program Kompensasi Pengurangan Bahan Bakar Minyak (BPKPBBM), Beasiswa Sosial Yayasan Marsudirini Yogyakarta.

JALUR SELEKSI
  • Jalur Minat: Mulai 7 Jan - 7 Juli 2010 Tanpa Tes, nilai rata-rata rapor kelas XI Sem I,II, dan Kelas XII sem. minimal 6,5.
  • Jalur Kerja sama Sekolah: Tes diadakan di sekolah, waktu dan tempat menyesuaikan.
  • Jalur Reguler: Tes di kampus ASMI Santa Maria Yogyakarta.

BIAYA PENDIDIKAN
Biaya Pendidikan Meliputi :
  • SPP Tetap Rp. 750.000,00/smt
  • SPP Variabel Rp. 45.000,00/sks
  • Biaya Pengembangan Profesi dan Kepribadian (BPKP) Rp. 350.000,00/smt
  • Dana Pengembangan Lembaga dipungut 1(satu) kali selama masa studi (dapat diangsur)

BPKP mencakup biaya kegiatan yang diselenggarakan dalam waktu 6 semester seperti Bintal, Makrab, Retret, Sex Education, Ekstrakurikuler, Beauty Class, Leadership Training, Personality Development, Table Manner, dll.

TENTANG ASMI SANTA MARIA YOGYAKARTA

AKADEMI SEKRETARI DAN MANAJEMEN MARSUDIRINI (ASMI) SANTA MARIA YOGYAKARTA

VISI DAN MISI

Sebagai salah satu unit karya Suster-suster Ordo Santo Fransiskus (OSF) yang berpusat di Semarang, ASMI Santa Maria Yogyakarta mempunyai Visi, Misi dan Tujuan sebagai berikut:


VISI

Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mewujudkannya dengan melindungi, meningkatkan harkat dan martabat manusia dan moralitas melalui karya Pendidikan Tinggi dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang secara terus-menerus dikembangtumbuhkan kualitasnya sesuai dengan kebutuhan.


MISI
  1. Menyelenggarakan karya Pendidikan Tinggi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral dan religi, baik dalam kegiatan akademis maupun non-akademis sesuai dengan profesi yang ada dalam institusi.
  2. Menyelenggarakan karya Pendidikan Tinggi dengan melaksanakan nilai-nilai etis dalam semangat pelayanan/pengabdian kepada masyarakat di era global yang berwawasan internasional.
  3. Menyelenggarakan karya Pendidikan Tinggi yang dilaksanakan dalam konteks iman bertujuan membentuk mahasiswa agar memiliki kemandirian moral, kemampuan memberikan penilaian secara rasional dan kritis, menghargai harkat-martabat manusia, dan mewujudkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
  4. Menyelenggarakan karya Pendidikan Tinggi yang berpedoman pada nilai-nilai spiritualitas dan budaya lembaga yang mencakup semangat persaudaraan, kesederhanaan, kepekaan sosial, keadilan, kejujuran dan ketulusan.

TUJUAN


Tujuan Umum

Mempersiapkan mahasiswa agar menjadi pribadi utuh dan berkualitas yang memiliki:

  1. Keharmonisan intelektual, emosional, religius dan fisik.
  2. Semangat persaudaraan dengan lingkungan hidup, diri sendiri, sesama dan Tuhan.
  3. Profesionalitas, kemandirian moral, tanggungjawab, kedisiplinan, kreativitas, sikap kritis, dan eksploratif.
  4. Pribadi yang matang, dewasa, disiplin, unggul, dan mampu mengembangkan diri secara terus-menerus.

Tujuan Khusus

Membentuk pribadi seorang sekretaris profesional, manajer madya profesional, dan public relations officer profesional yang memiliki kemampuan menguasai bidang ilmu sesuai dengan profesinya, mengembangkan, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan didasarkan pada orientasi cinta kasih, persaudaraan dan kerjasama di dalam setiap tindakan.


NILAI-NILAI PEYALANAN
  1. Spiritualitas: PERSAUDARAAN
  2. Kharisma: DEUS PROVIDEBIT (Tuhan yang Menyelenggarakan)
  3. Motto: MENDISPLINKAN DIRI MERUPAKAN KUNCI KERBERHASILAN.